Upaya Meromantisir Kegiatan Makan

Salah satu aktivitas yang saya hayati dan kerap saya romantisir adalah makan. Sebagai orang yang pemilih dalam makan, saya percaya bahwa tiap makanan dibuat dengan alasan tertentu, makanya bisa menciptakan rasa yang berbeda-beda. Sepragmatis apapun alasan yang dibuatnya, itu tetap berkontribusi terhadap rasa yang tercipta.

Di tengah waktu yang berlaju dengan cepat dan kita yang sering melupakan dan terlupakan oleh orang-orang terdekat kita, kegiatan makan adalah perekatnya. Tentu tidak dengan semua orang, tetapi ada beberapa orang yang sering saya ajak makan. Gila, cuma karena makan kita bisa bergegas dari tempat kerja, terus ketemu. Kayak karena aktivitas makan lo bisa jadi niatin buat ngomongin apa aja. Mau lo makan di kaki lima kek, ngemil di warung kopi atau warkop. makan di cafe atau restoran, atau minum di beer house kek.

Ngomong-ngomong soal makan, ia juga bisa menjadi jembatan pertemuan kita dengan orang asing. Aktivitas makan memaksa kita untuk memaksa dan mengetahui kultur suatu tempat. Misalkan, di Lasem kalau kita makan gorengan sambil ngudud sambil minum kopi, pasti kita ngelelet rokoknya pake kopi. Apa lagi ya, kalau lo lagi ngelamun sambil makan di kedai kaki lima ya bisa juga. Eh gua ngomong apa si.

Yaudah lah, pokoknya di tengah hidup yang menuntut kewarasan, ya yang bisa gue lakukan ya cuma menginisiasi makan malam dimana-mana. Besok sama si A, lusa sama si B, tiga hari kemudian sama diri saya sendiri. Makan demi meramu percakapan, atau menampung keluh kesah. Perkara diiyakan atau tidak, ya blas bebas.

Advertisements

Meramu Masa Depan di Ramurasa

Tulisan ini dibuat dari studio memasak di Jakarta. Sekarang aku menjadi agak pelit kalau ditanya tempat ngumpet kesukaanku dimana, karena banyak orang yang mendekatiku untuk hal ini.

“Lu harus bisa menghentikan kebisingan di kepala lo. Lu harus bisa menahan sakit kan its part of our life” tutur Adriano Qalbi di Podcast Awal Minggu. Sekarang, aku bisa bersepakat dengan kata-kata ini.

Anyway, tadi 4 jam lalu aku ditanya oleh Tasha. “Ca, tujuan hidup kamu apa?”.

Biasanya agak lama bagiku untuk bisa menjawab hal ini, tetapi akibat beragam wahana roller coaster, halang rintang, arung jeram, perosotan, seluncuran, komidi putar, dan ayunan yang telah aku cicipi membuat aku dapat menjawab (dengan tambahan).

“Aku cuma ingin bisa memiliki rekan yang sangat mendukung, yang tidak mengomel kalau aku menjalankan ritual pagi dengan mencuci piring disambil mendengar lantunan musik jazz, soul, kadang city pop, kadang rock, semau aja. Tidak mengomel juga kalau aku mengoleksi teh artisan, beragam saus untuk dikoleksi dan digunakan. Berkecukupan sih, gak harus kaya-kaya banget. Kelas menengah lah. Bisa membuka ruang percakapan dan membangun kompromi atas beragam pilihan yang aku, dia, kami punya”.

“Kalau untuk society, aku gak mau membuat hal-hal besar. Mungkin aku ingin jadi relawan tiap akhir pekan. Aku juga ingin belajar tentang pendidikan alternatif dan non-formal. Aku tahu sampahnya ketika seorang individu direpresi oleh institusi pendidikan formal. Aku ingin membuat safe space untuk orang bisa belajar hal-hal baru dan bercakap hal-hal ini. Ingin punya kedai roti, kedai teh, atau kedai-kedai lainnya dimana aku bisa mengobrol dan bisa memasak. Entahlah, masih gak tau cara mewujudkannya gimana.”

Ini kayaknya ideal ya, tapi kalaupun gak bisa mencapai hal-hal ini ya tentu aku harus membangun siasat dan berkompromi. Toh, dalam buffet yang ditawarkan oleh restoran all-you-can-eat kamu juga gak bisa memakan semua makanannya, kan?

Menemukan Kehangatan Setelah Hujan : Sebuah Refleksi

Ada pelajaran yang sangat mahal dari proses menulis skripsi ini.

Belajar kenal sama diri sendiri. Belajar mengatur emosi. Belajar kenal kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Mencari segala cara untuk bersiasat dalam menghadapi pikiran saya yang kerap jahat.

Belajar bersyukur atas hal-hal kecil. Belajar mengapresiasi pertolongan orang lain sekecil apapun. Belajar untuk mencari bantuan. Belajar untuk disiplin. Mastering diri sendiri.

Mahal, mahal banget. Saya belajar banget dari bebasnya Pak BTP hari ini. Belajar mastering diri sendiri itu sulit, tapi kalau bisa mungkin mahal banget ilmunya.

Belajar menerima. Belajar mencintai. Belajar optimis. Belajar untuk tidak takluk sama halangan, walau dalam prosesnya pasti kerap takluk. Belajar untuk jalan dengan kepala tegak.

Mungkin, saya kerap hiperbolis dan berlebihan dalam menanggapi apa-apa yang masuk ke diri saya, tetapi, bukannya manusia punya cara untuk belajar menghadapi apa-apa yang terjadi ya?

Ada yang langsung menelan makanannya terus melanjutkan aktivitasnya. Ada juga yang memilih untuk menelan dan memprosesnya pelan-pelan, baru melanjutkan aktivitasnya.

 

6 Pikiran Yang Terlintas dalam 1 Helaan Nafas

Ternyata, sulit ya untuk memberi jeda dan menghela nafas sejenak. Mengakui diri ini kalau lagi butuh rehat, ya sulit, kalau terus melihat orang-orang yang terus berlari. Berkawan sama ego sendiri, sulit, pasti egonya terus minta untuk dikasih makan.

//

Oh iya, saya ingin berterimakasih kepada orang-orang yang terus memberi saya kesempatan untuk membuat percakapan yang menyenangkan dan juga hangat. Sempat berpikir sih kalau itu tidak bisa dikapitalisasi dengan uang, tapi ya gak papa.

//

Duh, kangen baca puisi di depan orang-orang yang tidak aku kenal. Rasa-rasanya aku bikin puisi saja tidak bisa hahaha.

//

Woy, umur udah 23, jangan sibuk romantisasi sana-sini, cepat bergerak.

//

Aku gak tahu gimana caranya hidup bekerja, gimana aku tahu cara hidupmu bekerja.

//

Jadi, mari bersulang gelas yuk. Mari menikmati hari.

 

Apa Kabar, Echa?

Hi!

 

Hari ini hujan, tidak terlalu deras tetapi cukup untuk membasahi bumi. Aku tidak tahu kenapa aku enggan berinteraksi dengan banyak orang saat ini. Yang aku tahu, kepalaku sakit sekali. Yang aku tahu, aku merasa payah tanpa cukup berusaha. Jujur saja, aku seperti kehilangan tujuanku. Aku tahu semua orang sedang berlari kencang saat ini, jadi aku tidak ingin mengganggu siapa-siapa. Yang aku tahu, rasanya cukup berat untuk melalui hari demi hari. Rasa-rasanya aku tidak pernah cukup becus untuk mengerjakan apapun.

Yang aku tahu, semua orang memarahiku. Aku tahu karena mereka peduli kepadaku, sampai-sampai kadang tidak ingin menegurku lagi, mungkin muak. Yang aku tahu, aku mengusahakan kepercayaan diriku untuk tumbuh. Rasanya usahaku belum cukup berhasil, belum jauh, entah aku masih selalu kalah dengan bayangan dan suara-suara yang rasanya makin berisik di kepalaku. Beberapa kali aku rasanya berharap tidak pernah terbangun lagi, well atau tidak ingin hidup. Ingin lari aja, kadang aku terlalu malu sama kehadiranku sendiri. Atas apa-apa yang pernah aku perbuat, atas apa-apa yang pernah aku pikirkan.

Aku tetap terbangun, tetap bekerja walau tidak tentu, tetap mendengarkan cerita teman-temanku di kala butuh. Yang tidak aku lakukan adalah aku tidak cukup menyayangi diriku sendiri, menjalani hari dengan prasangka buruk, aku selalu meremehkan diriku sendiri. Aku tidak sanggup mengerjakan skripsi, aku tidak sanggup melangkah ke ruanganku itu. Musuhku adalah diriku sendiri.

Baru saja, 1 menit lalu, semangatku bangkit kembali, karena ada lowongan yang tidak mengutamakan umur, jadi aku ingin mencoba. Aku tahu peluangku sangat kecil, tetapi aku sudah lama tidak menjadi orang yang berani. Jadi, aku ingin mencoba.

Mencoba Menulis Tanpa Beban – Pemicu untuk Mengerjakan Tugas Akhir

Aku bisa

Aku bisa

Aku bisa menulis

Aku bisa menulis

Aku suka menulis

Aku suka menulis skripsi

Tidak ada yang harus ditakutkan

Kamu bisa

Kamu bisa

Kamu percaya

Bahwa semesta selalu bekerja dengan caranya sendiri

Tarik nafas

Jalan saja pelan-pelan

Aku bisa

Aku yakin

Tulis saja

Apa-apa yang kamu inginkan

Buka simpul yang terlalu mengikat

Alirkan nafasmu

Tuh, ini saja bisa kamu tulis

Ini bukan masalah sempurna atau tidak

Ini adalah perihal tentang bagaimana kamu mengalirkan dirimu

Mengalirkan citamu

Atau pragmatisme mu untuk mengejar impianmu

Tuh, kalau tidak diikat atau ditimpa dengan batu

Dengan imaji-imaji buruk yang terus kamu perbuat

Tulisan ini saja bisa lahir

Masa, skripsi tidak bisa kamu lahirkan

Barito, bulan sepuluh tahun dua ribu delapan belas

Sebuah Sapaan Untuk Diri Saya Sendiri

Halo, Nabilla!

Halo, Echa!

Halo, Reysa!

Halo, Utami!

Halo, Bila!

Halo, Reys!

Halo, Tami!

Baru saja saya memenggal nama panjang yang dilekatkan oleh orang tua saya menjadi 7 panggilan nama. Mungkin saja panggilan itu akan bertambah, atau berkurang, yang kemudian bergantung pada keinginan saya untuk mengenali diri saya sendiri. Pun dapat berubah jika saya mungkin membentuk persona baru di kemudian hari, yang mengakibatkan panggilan saya akan bertambah.

Surat ini dibuat oleh untuk saya sendiri, dari saya sendiri, di saat ini dan mungkin akan berdampak bagi saya di masa depan.

Terima kasih karena saya memilih untuk terus-terusan belajar hidup di masa sekarang, dengan resep sedikit mengurangi kekhawatiran akan masa depan serta memaafkan sedikit demi sedikit, atas luka yang sempat mengerak, dan terus untuk memaafkan diri saya sendiri. Terima kasih karena walaupun digempur ketakutan yang terus menerus hinggap, saya memiliki keinginan untuk menguranginya sedikit demi sedikit dan membiarkan semesta mengurainya dengan cara yang terus mengejutkan. Terima kasih karena saya telah memilih untuk menikmati setiap nafas yang saya ambil, setiap langkah yang saya ambil, setiap rasa yang hinggap, setiap tatap atas pemandangan yang selalu lewat sekelibat, setiap doa yang saya panjatkan kepada yang maha kuasa, dan setiap-setiap lainnya yang selalu mengiringi perjalanan saya.

Maaf kalau saya kerap kelewatan dan jahat kepada diri saya sendiri.

 

Penuh cinta,

 

Echa.