Apa Kabar, Echa?

Hi!

 

Hari ini hujan, tidak terlalu deras tetapi cukup untuk membasahi bumi. Aku tidak tahu kenapa aku enggan berinteraksi dengan banyak orang saat ini. Yang aku tahu, kepalaku sakit sekali. Yang aku tahu, aku merasa payah tanpa cukup berusaha. Jujur saja, aku seperti kehilangan tujuanku. Aku tahu semua orang sedang berlari kencang saat ini, jadi aku tidak ingin mengganggu siapa-siapa. Yang aku tahu, rasanya cukup berat untuk melalui hari demi hari. Rasa-rasanya aku tidak pernah cukup becus untuk mengerjakan apapun.

Yang aku tahu, semua orang memarahiku. Aku tahu karena mereka peduli kepadaku, sampai-sampai kadang tidak ingin menegurku lagi, mungkin muak. Yang aku tahu, aku mengusahakan kepercayaan diriku untuk tumbuh. Rasanya usahaku belum cukup berhasil, belum jauh, entah aku masih selalu kalah dengan bayangan dan suara-suara yang rasanya makin berisik di kepalaku. Beberapa kali aku rasanya berharap tidak pernah terbangun lagi, well atau tidak ingin hidup. Ingin lari aja, kadang aku terlalu malu sama kehadiranku sendiri. Atas apa-apa yang pernah aku perbuat, atas apa-apa yang pernah aku pikirkan.

Aku tetap terbangun, tetap bekerja walau tidak tentu, tetap mendengarkan cerita teman-temanku di kala butuh. Yang tidak aku lakukan adalah aku tidak cukup menyayangi diriku sendiri, menjalani hari dengan prasangka buruk, aku selalu meremehkan diriku sendiri. Aku tidak sanggup mengerjakan skripsi, aku tidak sanggup melangkah ke ruanganku itu. Musuhku adalah diriku sendiri.

Baru saja, 1 menit lalu, semangatku bangkit kembali, karena ada lowongan yang tidak mengutamakan umur, jadi aku ingin mencoba. Aku tahu peluangku sangat kecil, tetapi aku sudah lama tidak menjadi orang yang berani. Jadi, aku ingin mencoba.

Advertisements

Mencoba Menulis Tanpa Beban – Pemicu untuk Mengerjakan Tugas Akhir

Aku bisa

Aku bisa

Aku bisa menulis

Aku bisa menulis

Aku suka menulis

Aku suka menulis skripsi

Tidak ada yang harus ditakutkan

Kamu bisa

Kamu bisa

Kamu percaya

Bahwa semesta selalu bekerja dengan caranya sendiri

Tarik nafas

Jalan saja pelan-pelan

Aku bisa

Aku yakin

Tulis saja

Apa-apa yang kamu inginkan

Buka simpul yang terlalu mengikat

Alirkan nafasmu

Tuh, ini saja bisa kamu tulis

Ini bukan masalah sempurna atau tidak

Ini adalah perihal tentang bagaimana kamu mengalirkan dirimu

Mengalirkan citamu

Atau pragmatisme mu untuk mengejar impianmu

Tuh, kalau tidak diikat atau ditimpa dengan batu

Dengan imaji-imaji buruk yang terus kamu perbuat

Tulisan ini saja bisa lahir

Masa, skripsi tidak bisa kamu lahirkan

Barito, bulan sepuluh tahun dua ribu delapan belas

Sebuah Sapaan Untuk Diri Saya Sendiri

Halo, Nabilla!

Halo, Echa!

Halo, Reysa!

Halo, Utami!

Halo, Bila!

Halo, Reys!

Halo, Tami!

Baru saja saya memenggal nama panjang yang dilekatkan oleh orang tua saya menjadi 7 panggilan nama. Mungkin saja panggilan itu akan bertambah, atau berkurang, yang kemudian bergantung pada keinginan saya untuk mengenali diri saya sendiri. Pun dapat berubah jika saya mungkin membentuk persona baru di kemudian hari, yang mengakibatkan panggilan saya akan bertambah.

Surat ini dibuat oleh untuk saya sendiri, dari saya sendiri, di saat ini dan mungkin akan berdampak bagi saya di masa depan.

Terima kasih karena saya memilih untuk terus-terusan belajar hidup di masa sekarang, dengan resep sedikit mengurangi kekhawatiran akan masa depan serta memaafkan sedikit demi sedikit, atas luka yang sempat mengerak, dan terus untuk memaafkan diri saya sendiri. Terima kasih karena walaupun digempur ketakutan yang terus menerus hinggap, saya memiliki keinginan untuk menguranginya sedikit demi sedikit dan membiarkan semesta mengurainya dengan cara yang terus mengejutkan. Terima kasih karena saya telah memilih untuk menikmati setiap nafas yang saya ambil, setiap langkah yang saya ambil, setiap rasa yang hinggap, setiap tatap atas pemandangan yang selalu lewat sekelibat, setiap doa yang saya panjatkan kepada yang maha kuasa, dan setiap-setiap lainnya yang selalu mengiringi perjalanan saya.

Maaf kalau saya kerap kelewatan dan jahat kepada diri saya sendiri.

 

Penuh cinta,

 

Echa.

 

 

Interpretasi dari Crystalized – The XX

You’ve applied the pressure
To have me crystallized
And you’ve got the faith
That I could bring paradise
Rangkul dan peluk dalam diam, tidak bertanya apa-apa.
Bukankah kadang di sekeliling kita kita terlalu banyak melebur ke dalam keriuhan?
Jarak dan waktu,
mari saling melewatkan momen masing-masing,
kerap dibutuhkan.
Banyak racun yang kerap membebat diri kita.
Bisa dalam bentuk keraguan, ataupun “cinta” yang membunuh secara tidak sadar.
Baru dua tahun berada pada fase umur kepala dua.
Kayaknya berasa punya kepala dua.
Menurut saya, menjadi seorang saya di tahun ini rasanya mencemaskan, menegangkan, tetapi di sisi lain juga menggairahkan.
Saya berupaya untuk mencipta perayaan atas segala hal yang terjadi.
Banyak tempat, atau momen yang bisa kita pilih, untuk dilekatkan pada perayaan yang kita inginkan.
Kita semua hingga saat ini masih diliputi ketidaktahuan akan apa-apa yang terjadi.
Banyak yang tidak bisa tergantikan,
Waktu tidur yang digadaikan seseorang untuk menjadi tempat keluh kesah seseorang.
Mobilitas yang seseorang tempuh demi menemui orang lain yang membutuhkannya.
Energi yang kerap habis kala memendam emosi sendiri agar bisa mendengarkan.
Akhirnya, bunga itu mulai mekar.
Untuk siapapun yang sedang diliputi kecemasan,
ketidaktahuan,
Percayalah, kamu akan keluar dari terowongan gelap yang tampaknya tidak berujung.

Skripsi x Merbabu

4 jam menuju revisi yang entah ke berapa kalinya, saya malah menulis sekumpulan remeh-temeh ini.

Tiba-tiba saya mengingat pendakian saya ke Merbabu. Ingat betul, saya 20 menit terlambat mencapai puncak. Karena di tengah perjalanan, kaki saya sakit sekali tidak bisa melangkah, nafas saya tersengal, keyakinan saya pun runtuh. Tahu betul jika puncak masih jauh, tetapi ketika melihat savana yang menghampar, saya tahu saya bisa. Saat mencapai puncak, saya menangis. Indah betul pemandangan yang bisa dilihat dari atas puncak gunung, mega-mega yang bergulung pun laksana ringannya permen kapas yang kerap saya kulum saat masih kecil.

Saya terlempar ke memori lama karena saya masih mengerjakan skripsi saya. Ditempa betul saya. Kata teman yang masih satu bimbingan saya, katanya saya tidak dibiarkan untuk naik pesawat tuk mencapai tujuan, alih-alih disuruh menaiki mobil dan berjalan di jalur lambat untuk menikmati pemandangan. Baik jalan lurus nan lancar, tikungan, melewati jurang di sisi kiri-kanan, mendaki, turunan, sehampar sawah, kaki gunung, tepi laut, harus saya nikmati.

Saya seperti kembali ke masa pendakian dari pos savana menuju puncak di Merbabu. Naik satu dua langkah, kemudian berhenti. Bab 1 yang saya kerjakan pun belum menginjak teori. Tadi, saya hanya menatap layar dengan tatapan kosong selama 1 jam, atau 2 jam ya, tidak bisa mengetik satupun kata. Saya menerka-nerka, apakah saya akan tumbuh dan berkembang di masa pengerjaan skripsi saya?

Entah, saya hanya memilih menjalaninya saja. Lelah juga kalau terus melihat kanan dan kiri.

Semua orang kan punya perjalanannya sendiri.

Toh, saya harus memeluk rasa percaya saya bahwa saya akan mencapai puncak. Setidaknya, hanya itu yang bisa saya dekap erat hingga saat ini.

Kelana

Kelana

Catatan : Tulisan ini juga diikutsertakan pada kelas penulisan yang diselenggarakan oleh BEM FISIP UI 2017

Hati membara, memburu, bergolak.

Menggerakkan inginnya.

Inginnya menggerakkan kakinya.

Maka berkelanalah ia.

Dalam kelananya, ia merasa digenapkan oleh keramaian.

Atas percakapan yang muncul dengan spontan.

Atas tawaran nasi bungkus dengan lauk telor yang ia terima dari seorang nenek di kereta Jakarta-Jogja itu.

Dan segenap doa yang ia haturkan.

Melihat aku yang sendiri, agar aku baik-baik saja ujarnya.

Terasing, tetapi lama-lama bisa mengakrabi wajah penuh harap dan peluh.

Aku menemukan diriku di tengah keasingan.

Di keheningan malam.

Diiringi lantunan suara Karen O, kepalaku riuh, hatiku sesak.

Marah, maka aku berlari diiringi kecepatan kereta yang memburu.

Kelana.

“Kamu, terlalu liar sebagai perempuan. “

“Kami menyesal kamu tidak dipelihara baik-baik”

ucap sanak yang mengetahui peta kelanaku.

Toh, aku tetap membatu dan melanjutkan kelana ku.

 

 

 

Aku Paling Tidak Bisa Menulis Judul

Denting piano, suara nasi kebuli yang sedang dimasak, suara pengetikan yang ditimbulkan oleh ketukan pada tuts komputer jinjing, sesekali juga terdengar kendaraan yang berlalu-lalang di wilayah pemukiman itu.

Suara seduhan espresso yang diekstraksi dari mesinnya juga pelan-pelan terdengar.

Aku juga mendengar suaraku sendiri, tepatnya suara perutku yang “bernafsu” menginginkan mencerna ini dan itu.

Kepalaku sedang mencerna apa yang sedang aku kerjakan, apa yang ku lakukan 10 menit yang lalu, dan mencoba untuk menjawab mengapa aku memilih sepiring brownies alih-alih nasi kebuli yang terus merasuki indra penciuman dengan kurang ajarnya.

 

————–

 

Gadis itu menelusuri jalan setapak.

15 menit berlalu, ia hanya menemui jalan buntu.

Tiba-tiba, ia terlempar ke suatu tempat baru, sehampar tanah yang enggan ditinggali pemiliknya.

Ia melihat pelangi di daerah kosong ini.

Aneh, padahal hujan sudah lama tidak turun.

Gadis itu menelusuri lengannya, dan ia tersentak heran karena saat ini ia mengenakan gaun kembang-kembang, mahkota bunga-bunga, dan sepatu yang menyerupai model yang sering dikenakan balerina.

Bagaimana semuanya menjadi mungkin?

Semuanya menjadi mungkin, sayangku, ketika inginmu menguasai dirimu.

 

—————

 

Tadi aku bertanya kepada temanku, bagaimana cara membuat puisi berima?

Apakah tidak apa-apa jika aku tidak pandai membuatnya?

Tidak apa, ujarnya, kadang dalam membuatnya kita kerap memperkosa kata.

 

—————-

 

Suara es dipecahkan beradu dengan suara lagu pop barat era 2000-an dan juga suara tawa yang keras dan juga suara yang timbul dari percakapan yang dilakukan sepasang kekasih, atau teman, yang tentunya bukan urusanku.

 

—————-

 

Ah, hari ini aku sembunyi lagi. Betapa. Pengecutnya.

 

—————-

 

Dalam sebuah pertandingan bola yang kusaksikan sembari memamah pizza rasa rumah. Nafasku menjadi dua kali lebih berat seolah dadaku menyempit diri dan oksigen tidak mau mengalir lagi ke otak.

Mengapa kita begitu menikmati hal yang begitu maya?

Sementara di luar sana, realita dipeluk mati-matian oleh sepasang suami isteri dan anak laki-lakinya yang terpaksa tidur di gerobak lagi malam ini.

 

—————-

 

Piano masih berdenting, sama seperti saat kamu menatap mataku penuh keyakinan.

Espresso masih utuh, tapi ia mendingin, sebab teracuh oleh hal-hal yang terlalu hangat untuk dibicarakan.

 

Lalu orang-orang tetap berlalu lalang

Dan aku, tetap di sudut, tenggelam bersama tumpukan buku tua yang berdebu.

Memilukan dan memalukan punya hubungan saudara, rupanya.

 

—————-

 

Ku kucek mataku berulang kali.

 

—————

 

Hening.

Pada apa aku beriman?

 

—————-

 

Tanya atas iman mempertemukan aku dan gadis bergaun bunga-bunga dalam dimensi paling samar. Bumi sedang asyik-asyiknya berotasi dalam siasatnya paling licik hingga aku dan gadis harus bertekuk lutut pada sebuah kata paling menakutkan abad ini.

 

Takdir acapkali mengolok-olok dan waktu terlalu pongah untuk membantu.

 

—————-

 

Aku dan gadis masih tidak mengerti sebenarnya kapan kita bertemu dan aroma macam apa yang lekap.

 

–hasil adu pikiran dengan firdhaussi bersama dengan hal-hal baru yang melekat di saat itu.